Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

life skill, kecakapan hidup

by Romi Satria Wahono
 

kompetensi.jpgSebelum saya pulang ke Indonesia tahun 2004, saya sengaja mempersiapkan paket-paket materi seminar, workshop dan kuliah yang kira-kira masuk ke core competence (kompetensi inti) saya. Materi saya kemas dalam bentuk artikel, paper dan presentasi. Sudah hampir 2 tahun lebih dari masa itu, dan sudah ratusan seminar, workshop dan kuliah dimana saya jadi pembicara didalamnya. Paket selalu saya perbaiki dan sajikan sesuai dengan kebutuhan dan latar belakang audiensi, termasuk data-data baru saya ambil dari seri journal-journal terbaru. Paket makin hari makin bertambah sesuai dengan mobilitas kegiatan, ngajar, kerja dan pengalaman baru yang saya dapat.
metroelifestyle.jpgSelama 10 tahun lalu di jepang, saya lebih banyak bicara tema advanced tentang penelitian (research) yang saya kerjakan dalam event international conference, workshop, working group (kalangan peneliti terbatas). Kompetensi inti saya sebenarnya adalah di bidang Software Engineering, eLearning System dan Knowledge Management. Fokus penelitian saya selama di Saitama University di sekitar tiga bidang ilmu tersebut. Selama di Indonesia, bidang garapan saya bertambah dengan Computer Network dan Documentation Science. Ini karena saya kebetulan di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bekerja di Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII). PDII selain memiliki TuPoksi (tugas pokok dan fungsi) mengadakan layanan dan penelitian bidang Library and Documentation Science, juga menjadi Regional Academy (RA) Cisco. Kebetulan salah satu SDM yang dikirim adalah saya untuk menyelesaikan pendidikan 4 Semester Cisco Networking Acaedemy Program (CNAP), di Cisco Academy Training Center (CATC), Nanyang Technological University (NTU) Singapore. Sehingga dua bidang itu juga menjadi garapan saya saat ini.
Selain core competence resmi saya diatas, saya juga punya hobi mengerjakan berbagai hal lain. Hobi ini kemudian menghasilkan hasil (result) dan pengalaman (experience) yang kemudian saya sering share ke orang lain (publik). Tema yang termasuk hobi saya misalnya adalah Community Building, Community Leadership, Linux, Opensource, dan Computer Security. Meskipun demikian, saya bukan superman yang mengerti secara mendalam seluruh cabang Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi. Saya sering menolak berbagai undangan seminar atau workshop yang memberikan tema yang tidak saya kuasai dengan baik, meskipun saya biasanya memberi solusi ke panitia dengan memberi referensi siapa yang competence di tema tersebut.
rakbukuku.jpgSaya punya keinginan kuat untuk belajar, atau teman-teman saya sering mengatakan bahwa saya rakus ilmu :( Mungkin ini ada benarnya, dan sebenarnya sudah jadi  penyakit yg tidak sembuh-sembuh ;) Semasa duduk di bangku kuliah di Saitama University, Jepang, saya sering mengambil mata kuliah jurusan lain. Bahkan pada saat tingkat 4 saya mendapat warning dari profesor saya untuk tidak mengambil kuliah lagi karena overdosis, dan lulus dengan total kredit lebih dari 170 (syarat kelulusan program S1 sekitar 118 SKS). Saya suka membaca dan belajar bidang apapun yang belum saya kuasai. Koleksi buku di rumah juga sudah terlalu banyak, enam rak buku saya sudah cukup membuat ruang tamu penuh dan istri saya kerepotan untuk merawatnya. Dan untungnya tamak dalam ilmu adalah behavior yang baik dan sangat dianjurkan oleh agama ;) Dan secara tidak sadar, orientasi dalam belajar adalah untuk mengajarkannya kepada orang lain. Begitu membaca sebuah buku, saya selalu berorientasi bagaimana saya membuat penjelasan yang lebih mudah untuk saya sampaikan ke orang lain. Mungkin ini karena sebagian besar aktifitas saya ada di dunia akademisi (kampus), baik semasa di Jepang maupun di Indonesia.
BTW, Sedikit berbeda dengan research activity yang saya lakukan di Jepang, di Indonesia saya menemukan market baru yang lebih inklusif, umum dan jumlahnya sangat besar. Saya mulai memodifikasi tema-tema yang dulu saya buat untuk memenuhi target inklusif ini. Kalau dari susunan piramida, saya mengambil setengah lapis ke bawah dan bukan setengah lapis ke atas yang lebih ekslusif dan sedikit jumlahnya. Lebih banyak masyarakat awam, lebih banyak yang memerlukan solusi dan pencerahan yang komprehensif berhubungan dengan teknologi informasi. Kondisi SDM di Indonesia kita saat ini masih seperti itu, dan ini adalah sebuah tantangan. Saya justru ingin mengajak rekan-rekan aktifis teknologi informasi lain untuk memperhatikan masalah ini. Jangan keasyikan di jenis publik yang high level, karena teman-teman di daerah (pemda), instansi pemerintah dan sekolah-sekolah SD/SMP/SMA juga harus kita sentuh dan perhatikan.
Biasanya ketika diundang menjadi pembicara, saya menyiapkan dua hal: paper dan presentasi. Judul biasanya saya sesuaikan dengan tema besar seminar/workshop. Teknik penyampaian, paper dan presentasi saya sesuaikan dengan latar belakang audiens (peserta) yang hadir. Sehingga yang biasa saya tanyakan ke panitia adalah tentang:
  • Tema Besar Acara (mengatur objective materi dan isi yang saya bawakan)
  • Latar Belakang Peserta (mengatur level materi dan teknik penyampaian)
Berikut saya share beberapa topik materi yang saya kuasai dan pernah saya bawakan. Saya susun judul berdasarkan kategori bidang.
1. Teknologi Informasi Umum
- Pengantar Teknologi Informasi
- Pengantar Internet
- IT dan Pornografi
- Teknik Presentasi IT yang Menarik
- Teknik Pembuatan Presentasi Ilmiah Interaktif
2. Documentation and Library Science
- Ilmu Dokumentasi, Perpustakaan dan Pemanfaatannya
- Pemanfaatan IT dalam Perpustakaan
- Pengantar Digital Library
- Teknik Pengembangan Sistem Digital Library
- Sistem Otomasi Perpustakaan
- Teknik Mengembangkan Sistem Otomasi Perpustakaan
- Pengarsipan Digital dan Tekniknya
3. Knowledge Management
- Pengantar Knowledge Management
- Knowledge Management dan Tool
- Teknik Pengembangan Knowledge Management System
4. IT and Education
- Teknologi Informasi untuk Pendidikan
- Pengantar eLearning
- Teknik Pengembangan eLearning
- Pengantar Multimedia Pembelajaran Interaktif
- Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif
- Software Engineering dalam Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif
5. Linux and Computer Security
- Linux Fundamental
- Administrasi di Linux
- Security di Linux
- Linux dan Opensource
- Linux untuk Bisnis
- Dasar-Dasar Keamanan Komputer dan Jaringan
- Konsep dan Teknik Intrusi Sistem
- Web Hacking Teknik dan Tool
- Cybercrime and Cyberlaw
6. Computer Network
- Pengantar Jaringan Komputer
- Wireless Networking dan Teknik Instalasi
- Networking Basics (CCNA 1 CNAP)
- Routers and Routing Basics (CCNA 2 CNAP)
- Switching Basics and Intermediate Routing (CCNA 3 CNAP)
- WAN Technologies (CCNA 4 CNAP)
7. Community Building
- Community Building dengan Case Study IlmuKomputer.Com
- Community Leadership: Concept and Practice
- Pengembangan SDM IT dan Tekniknya
- Mengenal IlmuKomputer.Com
- Strategi Membangun Pelatihan IT
- IT Leadership and Management
8. Programming and Database
- Konsep dan Praktek Basis Data
- Pengantar Web Portal
- Pengantar Content Management System (CMS)
- Teknik Cepat pengembangan Web dengan CMS
- Database System (Mata Kuliah)
- Web Programming dengan PHP dan MySQL (Mata Kuliah)
- Java Programming (Mata Kuliah)
- C Programming (Mata Kuliah)
- Algoritma dengan Bahasa C (Mata Kuliah)
9. Software Engineering and Project Management
- Object Oriented Analysis and Design dengan OMT
- Object Oriented Analysis and Design dengan UML
- UML dengan Rationale Rose
- Pengantar Software Engineering
- Requirement Engineering
- Design Pattern
- Software Project Management (Mata Kuliah)
- Software Engineering (Mata Kuliah)
- Advanced Topics on Software Engineering (Mata Kuliah)

sinar penerang

by Romi Satria Wahono
 

irsyadhasan.jpgPotret orang Jepang dari dekat, sebuah kisah kecil yang kebetulan saya tulis sewaktu tinggal di Jepang.
“Ohayo gozaimasu (selamat pagi)”, sapa gadis kecil tetangga rumah, ketika saya hendak mengayun sepeda mengantar Irsyad, anak saya yang paling besar, ke Yochien (TK Jepang). Saya tersenyum karena tanpa sadar ternyata Irsyad sudah menganggukkan kepala dan balik menyapa gadis kecil tadi. Yochien tempat Irsyad sekolah letaknya tak jauh dari rumah, naik sepeda sekitar 5 menit.
Dalam perjalanan, kami lewat di depan rumah Oyasan (pemilik rumah yang kami sewa). Saya lihat dia sedang siap memanen sayur dan buah-buahan di kebun kecil di depan rumahnya yang selalu dia rawat dengan baik. Saya sapa dia dengan melambaikan tangan karena posisinya agak jauh. Tiba-tiba Irsyad menepuk-nepuk punggung saya dan mengatakan, “Abi, hari ini kita bisa makan tomat segar nih.”, dengan mimik muka yang bersemangat. Saya tersenyum, ya memang pada saat musim panen, sering sekali Oyasan memberi kami satu plastik besar berisi tomat, bawang ataupun wortel dari hasil panenan kebunnya.
hasan.jpgSampai di Yochien, Irsyad sudah lari masuk ke kelasnya dengan bawaan yang menurut saya agak kurang pantas untuk seorang anak TK berumur 4 tahun. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Dan si anak juga harus bisa mengenali sendiri mana barang yang milik dia. Saya biasa langsung berangkat ke kampus setelah mengantar Irsyad. Pulang ke rumah sore hari, sudah menunggu istri yang tersenyum dan bercerita bahwa hari ini mendapat kiriman bawang dan tomat dari Oyasan.
irsyadsalju.jpgIngin kembali memotret Jepang dari dekat beserta perilaku kehidupan masyarakatnya. Saya sering becanda ke teman-teman bahwa kadang-kadang orang Jepang itu berperilaku lebih Islami daripada saya. Sifat ihtirom (hormat) terhadap orang tua, akhlak terhadap tetangga, saling memberi hadiah kepada orang lain selagi mendapatkan rejeki lebih, kemudian juga dengan sistem pendidikan formal yang mengajarkan moral dan perilaku hidup mandiri dan sopan santun.
yochien.jpgTentu saja dari sisi lain, kita bisa melihat bahwa ada perilaku orang Jepang yang tidak Islami, misalnya budaya minum sake (minuman keras), makan daging babi, kehidupan free sex pada generasi-generasi mudanya, dsb. Pada sisi ini memang cahaya Islam belum sampai kepada mereka. Namun ada sesuatu yang menarik disini bahwa faktor “tidak tahu” itu lebih besar daripada “tidak mau melaksanakan”. Ini terbukti ketika kita cermati perilaku teman-teman Jepang yang akhirnya masuk Islam. Mereka masuk Islam dengan total, dan mereka buang apa yang salah menurut Islam, dan hebatnya mereka sangat teguh dan istiqomah menjalankan ajaran Islam yang baru saja mereka masuki.
Adalah seorang imam masjid Ichinowari, masjid di sebuah kota kecil di pinggiran prefecture Saitama. Ibrahim Okubo, begitulah kita biasa memanggilnya. Beliau adalah orang Jepang yang “baru masuk Islam” belasan tahun yang lalu. Dengan sorban yang selalu tertata rapi di kepala, senyum yang selalu terhias, kegesitannya dalam berdakwah, bagusnya bacaan dan hapalan quran beliau, kita akan semakin tertegun dengan kata-kata penuh hikmah yang keluar dari mulutnya. Sungguh sulit membayangkan bahwa belasan tahun yang lalu, beliau adalah orang Jepang yang suka sekali minum sake ataupun makan daging babi.
istri.jpgIstri saya yang suatu saat mendapat kesempatan mengajar ngaji di sebuah masjid di daerah Tokyo, sering merasa kewalahan memberikan jawaban terhadap rasa ingin tahu muslimah Jepang yang besar, berhubungan dengan hakekat cara baca quran maupun ajaran Islam secara umum. Banyak hal-hal prinsip yang seharusnya wajib kita kuasai tapi luput dari pengetahuan kita karena kita terlena dan terlalu taklid terhadap Islam yang kita peluk dari “warisan” orang tua dan kakek nenek kita. Saya juga tertegun dengan komentar istri saya pada suatu ketika dia berkata, “Orang Jepang meskipun sudah masuk Islam sifatnya tetap seperti orang Jepang. Mereka tetap sopan dan hormat terhadap orang lain, merasa nggak enak kalau anaknya mengganggu anak orang lain, tarbiyah (pendidikan) terhadap anak-anaknya supaya bisa hidup mandiri, dsb”.
Padahal sebenarnya semua ini adalah juga ajaran Islam, milik Islam, dan sudah seharusnya dilaksanakan dengan baik oleh orang Islam. Kita juga sudah terlalu sering mendengarkan nasehat-nasehat seperti ini lewat pengajian di masjid, di radio ataupun siraman rohani di televisi. Mengapa ini semua bisa dilaksanakan dengan baik oleh orang Jepang, tapi kita malah sering sekali melupakannya ?
Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah dari tulisan ini untuk semakin memotivasi diri kita dalam berakhlak dan berIslam secara total. Tak lupa marilah kita doakan saudara kita dari negeri matahari terbit ini untuk segera memperoleh sinar takwa dari Allah.

Kurikulum dan Gaya Pendidikan Kita

by Romi Satria Wahono
 

Sepulang dari study di Jepang tahun 2004, saya banyak mengajar di beberapa Universitas di Jakarta, terutama di fakultas atau jurusan yang berhubungan dengan ilmu komputer dan teknik informatika. Saya mengajar mata kuliah yang memang saya kuasai, dan terkait langsung dengan tema penelitian saya. Diantaranya adalah mata kuliah Software Engineering (Rekayasa Perangkat Lunak), Algoritma dan Bahasa Pemrograman (Algorithm and Programming Language), dan Basis Data (Database). Kebanyakan mata kuliah tersebut diajarkan setelah semester 5 (tingkat 3 atau 4). Dalam interaksi belajar mengajar di kelas, saya menemukan beberapa fenomena menarik berhubungan pengetahuan mahasiswa dan kurikulum yang diajarkan di universitas.
Saya menemukan tipe mahasiswa yang ketika saya terangkan dia kesulitan menangkap beberapa konsep yang seharusnya sudah dia dapat di semester sebelumnya. Katanya, itu tidak diajarkan di universitas tersebut. Fenomena ini terjadi dalam universitas yang memotong (mengubah) beberapa kurikulum yang seharusnya diajarkan, karena tidak ada SDM pengajar (dosen). Di lain pihak, saya menemukan fenomena lain dimana mahasiswa mengatakan bahwa dia mengenal beberapa konsep yang saya singgung, hanya dia lupa mata kuliah yang mengajarkannya. Fenomena ini terjadi di universitas yang mencekoki mahasiswanya dengan mata kuliah berlebih, dengan argumentasi bahwa supaya mahasiswa mendapat pengetahuan secara lengkap. Sering dosen mengajar bukan pada bidang yang dikuasai, hal itu terpaksa dilakukan oleh universitas untuk mengejar mata kuliah yang harus jalan. Dua-duanya ternyata membuat mahasiswa jadi linglung, yang satu linglung karena memang tidak pernah diajarkan, dan yang lain linglung karena terlalu banyak yang diajarkan. Intinya sih kedua-duanya sama-sama nggak ngerti ;) .
Fenomena aneh lain tentunya masih banyak, misalnya mahasiswa tingkat 3 jurusan teknik informatika (atau ilmu komputer) yang tidak kenal siapa Dennis Ritchie ;) , tidak bisa membuat program meskipun hanya untuk sebuah fungsi untuk memunculkan Hello World (apalagi mengkompilenya), tidak paham tentang paradigma pemrograman, juga tidak paham apa itu kompiler, shell, pointer, fungsi, array, dan tentu semakin mual-mual kalau saya sebut algoritma atau struktur data :( .
Bagaimana seorang mahasiswa Ilmu Komputer belajar? Saya mencoba memberi gambaran umum dengan mengambil studi kasus bagaimana jurusan ilmu komputer di Saitama University mengatur kurikulumnya. Saitama University bukan termasuk universitas yang terbaik untuk ilmu komputer, umurnya masih sangat muda dengan SDM pengajar (professor) yang juga terbatas, bahkan beberapa professor diambil dari jurusan elektro untuk beberapa mata kuliah tertentu. Ini tidak mengurangi keseriusan universitas untuk menyajikan pendidikan dan kurikulum terbaik untuk mahasiswa-mahasiswanya.
Saya mulai program undergraduate (S1) di Department of Information and Computer Sciences, Saitama Univesity tahun 1995. Tingkat I (semester 1 dan 2), mata kuliah dasar (kiso kamoku) sangat dominan. Kalkulus, statistik, probabilitas, fisika dasar, kimia dasar, discrete mathematics, dan mata kuliah dasar lain banyak diajarkan. Semester 2 sudah ada beberapa mata kuliah jurusan (senmon kamoku) yang diajarkan, diantaranya adalah bahasa pemrograman, bahasa C (prosedural), HTML, dengan praktek lab untuk mengenal Unix, shell, text editor (emacs), laTeX (TeX), gnuplot, kompiler, teknik typing 10 jari, dsb. Pada saat masuk tingkat II (semester 3), saya menyadari bahwa mata kuliah tingkat I membekali saya dengan beberapa tool dan konsep dasar, sehingga saya bisa survive mengikuti proses belajar mengajar di tingkat selanjutnya. Lab komputer hanya berisi Unix terminal. Seluruh laporan dan tugas harus ditulis dengan laTeX dengan text editor emacs, apabila memerlukan bahasa pemrograman harus dibuat dalam bahasa C dan dikompilasi dengan GCC. Apabila ada data yang harus ditampilkan dalam bentuk grafik, bisa menggunakan Gnuplot. Setiap mahasiswa harus mempunyai situs web (homepage), dimana selain berisi aktifitas pribadi, juga berisi seluruh laporan dan tugas yang dikerjakan. Selain lewat situs web, laporan harus dikirim dengan menggunakan email ke professor pengajar, dalam format PS atau PDF dengan source dari laTeX.
Yang menarik, bahwa gaya pendidikan yang ditempuh menganut konsep korelasi, berhubungan, saling mendukung dan terarah dari semester 1 sampai akhir. Skill terhadap komputer dan bahasa pemrograman juga cukup dalam, karena ada kewajiban menguasai bahasa C, HTML, Unix, Linux, Shell, dsb yang bukan untuk ritualitas mata kuliah semata, tapi untuk bekal sang mahasiswa supaya bisa survive di jenjang semester berikutnya. Apakah tidak diajarkan paradigma dan bahasa pemrograman lain? jawabannya adalah diajarkan, tetapi untuk konsumsi mahasiswa tingkat 3 (semester 5 dan 6). Pemrograman berorientasi objek (Java), functional programming (LISP dan Scheme), dan Prolog diajarkan pada semester 5 dan 6 untuk membidik supaya sang murid “nyantol” ketika mengikuti mata kuliah Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) dan Rekayasa Perangkat Lunak (Software Engineering). Dan dengan sebelumnya menguasai bahasa prosedural seperti C, kita semakin “ngeh” tentang pentingnya paradigma berorientasi objek ketika mendalami mata kuliah tentang pemrograman berorientasi objek.
Korelasi mata kuliah ini nampak juga dari deretan gaya pengajaran, setelah mahir berbahasa C, kita diminta ngoprek Minix yang terbuat dari bahasa C (sistem operasi buatan Andrew S. Tanenbaum, yang menginspirasi Linus Torvald membuat Linux) pada mata kuliah Operating System (Sistem Operasi), membuat sendiri shell (dengan fungsi yang mendekati bash dan cshell) diatas sistem operasi yang sudah kita oprek, dan diminta mendesain dan mengembangkan bahasa pemrograman sendiri di mata kuliah Compiler Engineering (teknik kompilasi). Berurutan, berhubungan, tetap fokus dan mendalam, itu mungkin resep desain kurikulum yang diajarkan.
Pada saat tingkat 2 dan 3 itulah sang mahasiswa diarahkan untuk menuju arah kompetensi sesuai dengan yang diinginkan. Dan yang pasti, hampir seluruh mahasiswa mendapatkan “bekal” dan “skill” yang relatif sepadan untuk bergerak. Mahasiswa yang ingin melanjutkan karier menjadi seorang Programmer, disiapkan mata kuliah Struktur Data, Algorithm, Programming Language, Compiler Engineering, Automaton dan Formal Language. Yang ingin jadi Software Engineer, harus fokus mengikuti mata kuliah Software Engineering, Industrial Software Engineering, System Development Engineering, Software Project Management, dsb. Yang ingin berkarier di perusahaan animasi dan grafis, harus serius mengikuti mata kuliah Computer Graphics, Image Processing, CAD Enginering, Pattern Recognition, dsb. Yang siap bergelut di perusahaan Telekomunikasi, harus melahap mata kuliah Information Theory, Communication System, Signal Processing, Speech Processing, dsb. Yang ingin ke arah Hardware, harus menguasai mata kuliah Electronic Circuits, Electronic Devices, Computer Architecture, Quantum Mechanics, Logic Circuits, dsb. Bagaimana dengan yang tertarik dengan Kecerdasan Buatan? harus mau berpusing-pusing ria di mata kuliah Artificial Intelligence, Expert System, Knowledge Engineering, Neural Network, dsb.
Rencana pengembangan karier ini semakin matang dan tertata ketika masuk ke tingkat 4, seluruh mahasiswa harus menjalani 1 tahun terakhir di grup penelitian yang dipimpin oleh seorang professor. Penelitian dan thesis (tugas akhir) sifatnya wajib dilakukan, untuk memperdalam dan memahami implementasi riil dari bidang ilmu peminatan yang direncanakan dan dicita-citakan sang mahasiswa. Apa itu bidang ilmu peminatan? Ya bidang yang sudah saya sebut diatas tadi. Programming, Software Engineering, Communication System, Computer Graphics, Artificial Intelligence, Computer Hardware, Networking, dsb. Masing-masing professor dengan grup penelitian biasanya fokus di satu atau dua bidang ilmu peminatan, termasuk didalamnya penelitian yang dilakukan dan mata kuliah yang diajar. Tidak ada seorang professor Software Engineering yang mendapat jatah mengajar mata kuliah Computer Graphics, karena memang bukan bidangnya. Kalaupun bisa memberikan, tentu tidak menguasai the root problem (akar permasalahan) yang ada di bidang tersebut, ini yang membuat mata kuliah jadi hambar, tidak mendalam dan mahasiswa jadi bingung memahami apa hakekat dari mata kuliah tersebut.
Jadi masing-masing mata kuliah ada arah, ada desain yang ingin dicapai, dan ini yang dijelaskan di awal perkuliahan. Tidak ada kegiatan OSPEK yang berisi penyiksaan dan penghinaan, tidak ada hura-hura pesta masuk perguruan tinggi, yang ada adalah penjelasan tentang kurikulum secara komprehensif. Sang mahasiswa ingin menjadi apa, tertarik di bidang apa, itu yang dibidik dan diarahkan oleh universitas dengan penjelasan desain kurikulum beserta dengan mata kuliah apa yang sebaiknya diambil oleh sang mahasiswa. Jumlah kredit untuk syarat kelulusan S1 juga tidak sepadat Indonesia, hanya sekitar 118, sudah termasuk didalamnya penelitian dan tugas akhir yang dihitung sekitar 10-12 kredit. Jadi total kredit dari mata kuliah hanya sekitar 106. Kelonggaran waktu yang ada dapat kita gunakan untuk kerja parttime di perusahaan-perusahaan IT, mengasah kemampuan jadi programmer, network engineer, admin, software designer, dsb. Mahasiswa mendapatkan konsep di kelas, dan mematangkan diri di lapangan, tempat kita menggarap project maupun tempat kerja. Itu adalah strategi penting dalam mengkader para computer scientist.Â
Universitas di Indonesia yang membuka fakultas/jurusan Ilmu Komputer dan Teknik Informatika harus berbenah. Tidak hanya berambisi mengejar jumlah murid karena konsep aji mumpung (mumpung TI sedang booming, terima mahasiswa sebanyak banyaknya :( ), tapi juga harus bertanggungjawab terhadap figur dan karakter hasil didikan dan lulusan universitasnya. Untuk para calon mahasiswa, pilihlah Universitas yang memiliki kurikulum dan dosen pengajar yang baik. Jangan memilih jurusan karena trend, ikut-ikutan teman, atau alasan tidak logis lainnya. Pilihlah karena memang kita berminat untuk berkarier di bidang tersebut.

industri & pendidikan

by Romi Satria Wahono

Saya mengangkat kembali masalah gap akademi-industri, sebagai tema pada orasi ilmiah acara wisuda di STMIK Inti, hari ini (23 desember 2009). Materi yang sama saya bawakan sewaktu menjadi keynote speaker di SNASTI 2008 dan orasi ilmiah di acara wisuda STMIK Eresha. Makalah saya revisi, saya perbaiki di sisi redaksional dan saya perkuat bagian referensi. Termasuk tema diskusi penting, yang bisa menjawab pertanyaan mengapa industri software kita terpuruk, meskipun  jumlah pengembang profesional kita mencapai angka diatas 70 ribu orang, menurut hitungan Gartner dan IDC. Gap harus dikurangi, karena tantangan ke depan teknologi informasi semakin besar. Di satu sisi, industri membutuhkan sumber daya manusia yang kuat secara teknis dan tersertifikasi, di sisi lain universitas harus melahirkan lulusan yang kuat secara karakter, mental dan kemampuan analitis. Tren sumber daya manusia ke depan yang arahnya membentuk para versatilist yang memiliki keseimbangan keunggulan defato (kreatifitas) dan dejure (degree, sertifikasi), menambah berat beban para akademisi dalam mendidik para mahasiswanya.

Saya mengusulkan empat strategi, yaitu: memperbaiki kurikulum dan proses pendidikan, memperbaiki kualitas penelitian, meng-encourage sivitas akademika untuk menempuh jalan technopreneurship, dan mencoba memasarkan produk penelitian kita dengan bahasa yang mudah ke masyarakat. Untuk mempelajari secara lengkap pemikiran saya, silakan langsung download makalah lengkapnya di bawah.

Download artikel lengkap (pdf): romi-industriakademisi-stmikinti-23desember2009